Oleh: Pos Kabupaten Media
poskabupaten.com – PT. Pertamina melalui anak usahanya Pertamina New & Renewable Energy menjalin kerja sama dengan PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia dalam pengembangan industri bioetanol di Indonesia. Kedua perusahaan ini kerap berkolaborasi dalam melakukan riset terpaut pengembangan bioetanol. Lantas apa itu bioetanol? adalah bahan bakar terbarukan yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik seperti tanaman singkong, jagung, tebu, dan limbah pertanian oleh mikroorganisme. Dalam kolaborasi ini Pertamina dan Toyota berencana membentuk perusahaan patungan atau join venture yang rencananya akan di realisasikan paling lambat pada 2026.
Dikutip dari Toyota Astra. Riva Siahaan, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, menyampaikan “Berkolaborasi dengan produsen kendaraan mobil merupakan langkah besar untuk menghadirkan ekosistem biofuel di Indonesia”. Lanjutnya “Kami percaya bahwa langkah ini tidak hanya akan mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca serta mendorong percepatan target Net Zero Emission 2060, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian negara, membuka peluang kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal yang terlibat dalam rantai pasokan bioethanol”. Sebagai langkah lanjutan proses transisi energi hijau, Pertamina Patra Niaga kembali mengembangkan bioethanol sebagai bahan baku alternatif di Indonesia. Pada sebelumnya di tahun 2023 Pertamina menghadirkan Pertamax Green 95 dengan bauran bioethanol 5% atau E5, pada kolaborasi ini Pertamina Patra Niaga meningkatkan bauran produk menjadi E10 atau bauran bioethanol 10% yang diharapkan menghasilkan pembakaran yang lebih bersih.
Pembangunan Pabrik Bioetanol di Lampung
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan, Pertamina dan Toyota akan membangun pabrik bioetanol di Lampung. Kesepakatan ini didapat usai pertemuan dengan CEO of Asia Region Toyota Motor Corporation Masahiko Maeda, pada Senin 10/11/2025 di Jepang.
Berdasarkan peta jalan yang disusun oleh pemerintah yang dimiliki Kementerian Investasi/BKPM wilayah Lampung telah disiapkan untuk menjadi pusat pengembangan industri bioetanol, proyek ini diperkirakan akan menelan investasi sekitar Rp 2,5 triliun. Ujar Todotua Pasaribu melalui keterangan resminya.
Beliau menyebut, untuk bahan bakunya juga tidak hanya dari perusahaan, tetapi juga melibatkan petani serta koperasi tani setempat. Dengan begitu, proyek ini juga dapat menggerakkan perekonomian di daerah. Selain itu, untuk suplai energi pada pabrik juga diintegrasikan dengan plant geothermal dan hidrogen milik Pertamina. Dilansir dari CNBC Indonesia.
Pengembangan Bioetanol Bisa Kurangi Impor BBM
Rencana Pertamina dan Toyota dalam mengembangkan ekosistem bioetanol emndapatkan respon positif, Ekonom senior The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip, menilai rencana yang akan ditindaklanjuti dengan pembentukan joint venture antara Pertamina dan Toyota paling lambat 2026, itu sebagai langkah bisnis yang cerdas. Dikutip dari metrotv.
Sunarsip menyebut, dari sisi ekonomi, pengembangan bioetanol akan berperan penting dalam mengurangi impor dan dapat menlong neraca perdagangan. Selain itu, pemanfaatan bahan baku di dalam negeri dapat menimbulkan efek domino terhadap perekonomian di dalam negeri. Petani akan memperoleh manfaat yang besar, karena meningkatnya kebutuhan etanol akan menaikkan harga bahan baku seperti singkong, tebu, dan sejenisnya.
“Jadi petani akan mendapat harga yang lebih baik. Kemudian akan menciptakan lapangan kerja baru sehingga menciptakan tambahan sumber ekonomi,” ujar Sunarsip.
Sunarsip mengingatkan, pemerintah harus menyiapkan skenario kompensasi agar harga bioetanol terjangkau.
“Ini yang perlu dicermati pemerintah bagaimana implikasinya dengan perekomonian negara. Ini adalah produk nonsubsidi. Tetapi, harganya secara ekonomi harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat,” ujar Sunarsip.
Produk bioetanol ini diharapkan dapat diterima di pasar Indonesia dan compatible dengan produk-produk mobil merek lain dan diharapkan produk bioetanol ini dapat diekspor.
Baca Juga: Cadangan Migas Nonkonvensional Terbesar di Rokan Berhasi Ditemukan
Untuk Berita dan Info Penting lainnya di Indonesia Jangan Lupa Kunjungi Berita Dalam Negeri
